Maafkan Aku Ibu,,, - suginugi | blog ajaib Maafkan Aku Ibu,,,

Ajaib Hot News :

Kamis, 22 Mei 2014

katalogi: ,

Maafkan Aku Ibu,,,


Maaf, sorry

Begitu banyak pikiran berkecamuk dalam otak dan hatiku,,,
Begitu banyak rasa mengarungi dadaku,,
Semua karena rasa bersalahku padamu
Ibu,, maafkan aku
apapun kesalahanku.

Yaa, itu salahku!

Dua Tahun lalu aku berhenti dari pekerjaanku di kalimantan agar aku bisa segera kembali ke lembang. Aku tidak pernah menyangka bahwa perjalanan pulang itu menjadi suatu keputusan yang salah,, sangat salah,, bukan, bukan karena berarti aku kehilangan gaji 4juta ku,, tapi karena setelah hari itu..... Aku kehilangan jiwaku.

Anggaplah kepulanganku sebagai usaha -yang secara metafora kugambarkan- untuk mengehentikan gelas agar tidak pecah.

Aku kembali tepat waktu,, tapi tak ada yang bisa kucegah,, gelas tetap pecah. Pecahannya tak hanya melukaiku tapi juga semua orang yang bahkan tak menggenggam kepingannya. Pecahannya telah melukai banyak hati.

Sejak hari itu, aku larut dalam rasa bersalahku, tak tahu apa yang bisa kulakukan, bimbang. Tak tahu bagaimana memperbaiki semua hal, risau.. Merana,,, yaa mungkin saja. Tapi lebih dari itu,,, tanpa ada yang tahu, sekeping pecahan gelas yang terburai telah membuka luka lama, luka yang lebih dalam dari apa yang bisa ditembus sebilah pedang.

Tidak,, tidak ada yang bisa lebih melukaiku kecuali diriku sendiri. Tak ada hubungannya dengan Ibu, Bapak, Adik-Adikku dan bahkan semua orang. Lukaku, luka yang kutorehkan atas diriku, adalah salahku, masalahku, kebodohanku. Dan biarlah perih,,, merintih,,, karena aku lebih pantas atas rasa sakit dan cacimaki.

Tapi, kau pikir berapa lama seseorang bisa bertahan? berapa lama ia bisa menanggung beban? Aku tak sekuat itu kawan! Aku mencoba mengalihkan masalahku pada masalah baru -atau mungkin masalah lama yang diperbarui- Ahh entahlah,, aku ragu. Sampai disini, aku bahkan tak tahu harus bagaimana lagi. 

Tidak ada yang bisa menyadarkanku, karena aku, atas kebodohanku, tidak pernah lebih sadar dari ini. Aku mungkin acuh, bersikap tak perduli. Tapi bagaimana aku bisa lupa akan rasa sakitku sendiri? Perih,, semakin perih..


Bagaimana mungkin aku lupa atas luka yang kutorehkan sendiri?

Aku meracau
memendam,,, lalu Membisu

Aku menangis
mengharu,,, lalu membiru


Aku melegam
atas rasa bersalahku

Aku mengigau,,, lalu kacau
hatiku pilu tak khusyu
membuncah,,, lalu lelah
mengalah pada waktu.


Tapi apa yang bisa kulakukan? Tak Ada. Apa yang bisa dilakukan? Tak ada. Lalu apa gunanya semua orang? Tak Ada. Jika ada yang bisa dilakukan, hanya Tuhan yang bisa melakukannya. 

Kau bisa membeli gelas baru, kau bisa memperbaiki gelas lama, tapi semua tak akan sama. Aku tak memiliki hak sama sekali untuk menyakiti, tapi aku juga tak bisa mengobati semua luka hati. semua, yaa, semua karena Akulah Gelas Yang Pecah.

NB: Ingin sekali aku mengatakan kesalahanku pada semua orang agar bisa di maafkan, tapi bila begitu perihalnya aku hanya akan membuka aibku sendiri, lalu apa gunanya hal itu setelah bertahun-tahun ku tutupi. Apa yang kutulis hari ini adalah apa yang selalu menggangu pikiranku. Aku tak pernah lupa. Tapi hari ini, setelah usai sholat Jumat, seseorang yang kuhormati, mengingatkanku akan kesalahanku. Aku senang ada yang mengingatkanku, tapi apa gunanya itu? Kesalahan yang beliau maksud bukan satu-satunya dan bukan yang paling besar diantaranya, maksudku jauh sebelum itu aku telah melakukan kesalahan yang jauh lebih besar. Beliau bertanya apa yang harus dilakukan "agar gelas yang pecah bisa diperbaiki" aku hanya bisa menjawab dalam hati "jangan biarkan gelas tu pecah lagi" tapi gelas yang pecah bukan masalah, masalahnya adalah aku, atas kesalahanku, telah memecahkan banyak gelas, berkali-kali hingga tak ada lagi kepingan untuk disatukan.Hingga tak ada lagi harapan, bahkan untuk membeli gelas yang baru. Akulah gelas yang sebenarnya pecah. Sekarang izinkan aku bertanya pada "Sang Pembuat Gelas" mengapa Engkau menciptakan gelas yang mudah pecah? 


Akan kuceritakan sebuah kisah yang menarik, dengarkanlah!

Alkisah, hiduplah seorang murid yang seringkali melakukan kesalahan dalam hidupnya. Untuk menyadarkan muridnya, Sang Guru memberikan nasehat yang tak pernah dilakukan pada murid lainnya;

Setiap kali murid itu melakukan satu kesalahan maka Sang Guru menancapkan satu paku di dinding kamar sang murid. Begitu seterusnya hingga ribuan paku telah menancap dan menyadarkan sang murid.

Sang Guru kemudian menjelaskan, "Muridku, satu paku mewakili satu kesalahanmu, kini setelah ribuan paku tertancap dan engkau mulai menyadari kesalahanmu, lakukanlah kebaikan untuk menebusnya, maka setiap kali kau melakukan satu kebaikan aku akan mencabut satu paku, lakukanlah kebaikan itu hingga kau bisa menebus semua kesalahanmu dan semua paku telah tercabut" begitulah hingga akhirnya sang murid sadar dan mulai menebus kesalahannya.

Singkat cerita, Sang Murid kembali ke kamarnya, menatap dinding yang dulu dipenuhi paku. Sekarang, semua kesalahan telah ia tebus, semua paku telah tercabut, tapi apa kau tahu apa yang dirasakan sang murid?

Ia menangis, menyesali semua kesalahan yang pernah ia lakukan. Sang Guru kemudian datang dan bertanya "Muridku, kau telah melakukan banyak kebaikan untuk menebus kesalahanmu, semua paku yang menjadi tanda kesalahanmu telah tercabut, sekarang apa yang kau tangisi, katakanlah?"

Sang murid menjawab "Iya guru, aku telah melakukan kebaikan agar kesalahanku bisa kutebus, lihatlah semua paku telah tercabut, tapi lihatlah guru,, lihat,, semua dinding telah terlubangi! aku mungkin bisa melakukan banyak kebaikan untuk menebus kesalahanku, tapi apa yang kudapatkan hanyalah rasa bersalah dan penyesalan, semua kesalahanku memberikan bekas yang tak bisa lagi ku tutupi."


Begitu banyak pikiran berkecamuk dalam otak dan hatiku,,,
Begitu banyak rasa mengarungi dadaku,,
Tapi, tak ada satupun kata bisa kuucap dari bibirku

Aku tak tahu kenapa,, tapi

Maafkan Aku Ibu,,, Maaf,, sekali lagi Maaf
Apa yang kutulis disini adalah apa yang tak berani kukatakan padamu.


Share This Article