Biarkan Kenanganku Tetap Ada part 3 - suginugi | blog ajaib Biarkan Kenanganku Tetap Ada part 3

Ajaib Hot News :

Selasa, 27 Mei 2014

katalogi: ,

Biarkan Kenanganku Tetap Ada part 3


Malam Ketika Cinta Mulai Datang



Biarkan Kenanganku Tetap Ada part 3, Malam Ketika Cinta Datang, cerita horror, cerita misteri, kisah seram


Seminggu setelah pembicaraan yang aneh itu, kami menikah, dinikahkan secara paksa sebenarnya, dengan pernikahan yang sangat sederhana. Tapi jujur, aku merasa beruntung. Kemudian sehari setelahnya Ayahku dan Ibuku pergi meninggalkan kami ke Australia, untuk melakukan sebuah bisnis di bidang teknologi pertanian –mungkin untuk waktu yang agak lama- dan karenanya ia pergi bersama Ibuku juga.


Ayahku tak pernah benar-benar berpikir tentang perasaan Hasna, tentang pernikahan yang terlalu tiba-tiba, aku pun tidak mengetahuinya, tapi untuk bertanya langsung padanya –yang mungkin sudah terlambat- aku merasa malu, tak mampu.


Pada malam pertama, kami tidur bersama, dalam ranjang yang sama, selimut yang sama tapi dengan kebisuan dan posisi yang saling membelakangi, dan (maaf) lebih sialnya lagi ada guling yang memisahkan kami. Tak cukup dengan itu, Lampu kamar dibiarkan menyala, dan pintu terbuka padahal Ayah dan Ibuku, tentu saja, masih ada di rumah kami.


Yaa, itu salahku. Aku tidak tahu bagaimana harus memulainya. Bahkan untuk memulai percakapan, aku, entahlah, ada rasa gugup yang berlebihan, malu, rasa kaku dan kecanggungan, hingga akhirnya aku memutuskan untuk tidur, membisu. Menghindari hal-hal yang mungkin belum sanggup kulakukan –lagipula- tiba-tiba saja aku lupa hafalan doa ku –yang khusus untuk malam seperti ini-.


Pukul 21:00

Aku berniat membalikkan badan, menghadap padanya dan memulai percakapan ringan. Tapi ku urungkan.


Pukul 21:19

Aku berniat untuk duduk menghadapnya, membelai rambutnya dan mengecup keningnya. Bismillah. Tapi ku urungkan kembali.


Pukul 21:27

Aku berniat bangun, mematikan lampu kamar kami, menutup pintu dan mengguncang ranjang. Lalu,, ya itu yang kupikirkan tapi,, aku masih gugup. Dan itu ku urungkan kembali. Lagi.


Pukul 21: 35

Hening.

Benar-benar hening.


Lalu tiba-tiba, ada sebuah gerakan kecil dipunggungku.........

Hasna Memelukku. Hatiku berdesir. Jantungku berdegup kencang. Wajahku memerah. Aku tahu karena aku merasakannya. Kupikir, ini mungkin saatnya. Hasna telah memberikan tanda persetujuan. Haha


Pukul 21: 37

Aku mulai mencoba mengingat doa yang harus kubaca dan telah kuhapalkan selama 3 hari sebelum malam ini. Ketika aku mulai mengingatnya, aku membacanya perlahan...


“Allohumma Inni asaluka khoirohaa wa khoiro maa jabaltahaa alaihi wa audzubika min syarrihaa wa min syarrimaa jabaltahaa alaihi..”


Kemudian, dengan gugup, aku mencoba membalikkan badan. Perlahan. Pelan - Agar pelukannya tidak lepas- dan begitu aku telah berbalik, berbalik menghadap ke arahnya,,,,,


Sebuah guling masih menghalangi kami.


Kucoba menyingkirkan guling itu dan, yaa, seperti yang tidak kuduga, Hasna sedang tertidur. Tertidur.


Malam pertama kami –lebih tepatnya malam pertamaku- gagal. Kami tertidur tanpa sedikitpun guncangan, sepi, sunyi dan agak kusesali. Paginya aku menyiapkan sarapan untuk kami berdua, karena Hasna –seperti yang kukira- masih belum terbiasa dengan rumah kami. Setelah itu aku pergi untuk mengantar kedua orang tuaku ke tempat mereka menyewa travel di daerah sarijadi.


Setelah mengantar mereka, berbekal Map yang telah kusiapkan sebelumnya, aku mulai mencari pekerjaan lagi. Seperti yang kulakukan selama 2 tahun ini.


Yaa, sudah 2 tahun ini aku menganggur, menggantungkan hidup pada nasib dan uang kedua orang tuaku. Aku hanya lulus sampai SMA, aku sempat kuliah tapi kemudian keluar, dikeluarkan lebih tepatnya. Dan hal itulah yang mungkin memicu Ayahku untuk segera menikahkanku. Agar aku lebih bertanggung jawab dalam hidup.


Sebelum Ayah dan Ibuku pergi, mereka meninggalkan kami bekal, dan mungkin akan mengirimi kami uang lagi, tapi tetap saja, aku yang telah menikah memiliki tanggung jawab tersendiri termasuk menafkahi istriku dan kelak anak-anakku dengan peluh dan keringatku sendiri. Karena itu, setiap hari, bahkan setelah hari ini, aku harus lebih giat lagi dalam mencari pekerjaan.


Malam kedua –meski suasana sangat mendukung- kami tak melakukan hal lain selain mengobrol, saling menceritakan kisah masing-masing. Boleh diibaratkan ini adalah masa-masa perkenalan kami karena sebelumnya kami tak pernah begitu saling mengenal. Dan seperti halnya sebuah perkenalan, hal itu terlihat sangat kaku dan malu-malu.


Siang, hari ketiga, kami mulai sedikit bercanda. Hasna mulai membantuku membereskan rumah, memasak sarapan untukku dan menyiapkan segala sesuatunya, termasuk mencuci pakaianku. Sebetulnya aku masih agak risih jika dia mencuci celana dalamku, tapi sebelum aku mengantisipasinya, dia sudah melakukannya. Aku tersipu malu.


Malam ketiga, pukul 20:49, dibuka dengan percakapan tentang celana dalamku yang di cuci olehnya, akhirnya, aku berhasil merayu dan meyakinkannya, dia pun tak berkeberatan. Pintu kamar ditutup, lampu dipadamkan, lilin dinyalakan, selimut di bentangkan dan.....


dan kemudian.......

Hujan turun setelah mendung, curah air mulai tak terbendung.


Keesokan paginya, setelah mandi dan Shalat subuh, aku meminta dibuatkan bubur ayam, dan sedikit mengganggunya di dapur.


“Ngaduk buburnya jangan kenceng-kenceng, slow aja” kataku


“Iya..” jawab hasna malu-malu.


“Udah mulai matang tuh, apinya kecilin, biar hemat gas” kataku


“Iya..” jawab Hasna masih malu-malu.


Ketika bubur matang, aku meminta agar disiapkan di meja agar kami bisa segera sarapan bersama. Kemudian aku pergi untuk menunggunya di meja makan. Beberapa menit kemudian dia telah siap dengan bubur ayamnya.


“Tolong siapin nih” kataku sambil menyodorkan mangkuk padanya. Dan ia pun menyiapkannya.


“Ambilin kecapnya dong” kataku menyuruhnya mengambil kecap di dapur. Dan ia pun mengambilnya.


“Ada bawang goreng ngga yaah?” mengisyaratkan Hasna untuk kembali ke dapur, mengambil bawang goreng yang sebenarnya ada banyak. Dan ia pun kembali ke dapur.


Beberapa saat kemudian, kami berdua menikmati sarapan kami. Aku pikir Aku terlalu banyak memerintahnya, meski Hasna –telah resmi menjadi istriku- tidak baik bagiku untuk terlalu mudah menyuruhnya melakukan segala sesuatu yang bisa kulakukan sendiri.


“Hasna,, bikinin kopi dong! Gula nya dua sendok yaaa...” kataku setelah memakan habis 2 mangkuk bubur buatannya.


“Iyaa,,” gumamnya sambil berlalu ke dapur untuk membuat kopi.


“Hasna,, sekalian deh beresin nih piring dan mangkuk mangkunya” perintahku padanya.


“Iyaa,,” jawabnya datar.


“Jangan lupa, nanti pel lantai dapurnya sekalian....” perintahku lagi ketika dia berjalan menuju dapur


“Iyaa,,” jawabnya masiah datar.


“Oh, iya jangan lupa, seprai dan bajuku di kamar nanti cuci yaa!” perintahku lagi ketika dia sedang berada di dapur.


“Iyaa,,” jawabnya mulai kesal.


“Oh iya, gula di dapur habis yaa, aku lupa.... kalo habis beliin dulu deh di warung” perintahku lagi ketika dia sedang mencari gula.


Dia pun berlalu tanpa menjawab, menuju keluar rumah dengan raut wajah yang agak kesal.


“Hasna,, kalo mau ke warung sekalian deh belikan aku permen”


“Hasna,, sebelum ke warung ambilkan dulu koran deh di halaman, tadi tukang koran udah datang”


“Hasna,,,,”


“IYAAAAA...” teriaknya tiba-tiba karena kesal. Aku tertawa.


“Hasna, kamu itu istriku, bukan pembantuku, sekali-kali kamu boleh menolak permintaanku, kamu punya hak untuk itu.


Kamu mungkin punya kewajiban padaku, tapi aku juga punya kewajiban padamu, aku punya hak, kamu juga punya.


Kalo kamu butuh sesuatu jangan sungkan untuk memintanya padaku. Sebagai suami istri aku ingin kita saling berbagi,,, kamu mengertikan?” kataku padanya dengan nada yang sedikit romantis.


Dia tersenyum, memandangku dengan sedikit linangan air mata. “Iyaa” jawabnya.


“Kalo begitu cepet deh beliin gula” kataku datar.


Dia pun pergi keluar dengan sedikit senyum yang sinis, tapi mungkin di hatinya, dia sedang tertawa. Yaa, sedikit gangguanku padanya mungkin akan mencairkan hubungan kami yang masih terlalu kaku dan malu-malu ini.


Beberapa menit kemudian, aku menyusulnya, keluar dari pintu aku mulai mencari sosoknya. Dia ada pada jarak yang agak jauh, aku mulai mengejarnya.


“HAAAASNAAAA,” teriakku memanggilnya.


Dia yang sedang berjalan menuju warung dekat rumah kami, kemudian menoleh. Meski agak di dramatisir, tapi adegan ketika dia menyibakkan rambut panjangnya untuk menoleh padaku yang tepat ada di belakangnya, membuatnya terlihat menarik, cantik, Indah, yaa, seperti kibasan rambut artis cantik dalam iklan Shampo wanita di TV. MENYILAUKAN.


“APAA?” teriaknya menjawab panggilanku.


Jarak kami sekitar 7 meter ketika dia berhenti untuk menunjukan adegan iklan shampo itu, sedangkan aku terdiam, berdiri membeku melihat sedikit dari banyak hal menarik pada wanita itu, istriku.


“Aku Mencintaimu” teriakku seketika.


Lalu membisu.


Entah dengan orang lain di sekitarku, tapi bagiku, saat itu waktu seperti berhenti berdetak, tapi tidak, waktu hanya sedikit melambat. Yaa, melambat. Setiap pergerakan yang kulihat menjadi adegan slow motion, adegan dimana semua orang bergerak sangat lambat, sangat perlahan. Membeku, aku tak kuasa menggerakkan tubuhku, jantungku berdegup dalam jeda yang lebih lama, tempo yang lebih lambat dan semakin lambat.


Entakan demi entakan.

Deg deg.......... Deg deg....................

Deg deg............................... Deg deg...........

Deg deg.......................................................Deg deg..........


Masih membeku, pikiranku hanya terfokus pada seorang di hadapanku, Hasna, yang kemudian datang menghampiriku perlahan, langkah kakinya bergerak perlahan, senada degupan jantungku, senada, meski dengan suara yang berbeda.


Perlahan, tapi dia semakin dekat,

Semakin dekat,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Semakin dekat,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Dan kemudian, sangat cepat, sangat cepat, sangat cepat dan,,,,,,,,,

Dan,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,


“PLAKKK” sebuah tamparan halus membentur wajahku.


Wajahku memerah, wajahnya juga.


“KALO MAU NYATAIN CINTA JANGAN DI DEPAN WARUNG DONG, MAALU TAUUU!” bentak Hasna padaku.



bersambung

Share This Article


14 komentar:

  1. Sedikit catatan aja: maaf nih mulai dari sini cerita bakalan tambah liar, apalagi dari awal genrenya emang udah gue bikin horror jadinya siap siap aja buat terkejut :-t Trus ini cerita lebih enak dibaca sambil dengerin Ajaib Instrumen Song, jadi stel aja lagunya di sebelah kanan ya sob! 8-)

    BalasHapus
  2. betul tuh kata kak Sugih Nugraha :))) pakek instrumen..

    oia, pas ngebaca urat senyumku gak terkendali, apalagi pas detail waktu yang lu jabarin :D
    satu lagi, ku kira Hasna pakek jilbab.. *ingettemen* ternyata.... u,u

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tenang, masih part 3! di lain part bakal banyak hal tak terduga (termasuk tentang jilbab, salat dan nalar yang mungkin menggetarkan) sabar yaa, ditungu aja lanjutannya :) btw thank nih udah mau baca!

      Hapus
  3. lagu apa ya yang kira-kira cocok digabungin biar makin dag-dig dug.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apa yaa? ah nikmatin yang ada aja lah, haha :)

      Hapus
  4. fotonya itachi, :-). gue rasa sambungan selanjutnya bakal lebih seru nihhh. penasaran!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ooh, gambarnya emang buat narik perhatian aja, ngga ada hubungannya sama Naruto kok :-)

      Hapus
  5. Asik ceritanya, gue suka waktu bagian hasna di perintah nurut2 aja, kirain mau minta cerai ternyata malah bikin ngakak :D
    Ditunggu lanjutannyaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hah, Cerai? pemikiran dari mana itu :-t

      Hapus
  6. Hahahak :-) Ceritanya bagus broh! Keren! Kutunggu kelanjutannya :)

    BalasHapus
  7. Gue baca awal ceritanya meskipun gue nggak begitu paham, tapi cukup menarik. Tapi makin ke sini juga, mata gue capek, bro. Sekedar saran aja, mungkin tampilan font-nya bisa dikecilin. Biar nggak bikin mata capek. :))

    BalasHapus
  8. yaaaah bersambung. gue tunggu lanjutannya ya Bro. :d

    BalasHapus
  9. Hahahaha itu isfri apa pembantu?

    Yang ditampar itu unpredictable, keren :D

    BalasHapus