Biarkan Kenanganku Tetap Ada part 2 - suginugi | blog ajaib Biarkan Kenanganku Tetap Ada part 2

Ajaib Hot News :

Kamis, 01 Mei 2014

katalogi: ,

Biarkan Kenanganku Tetap Ada part 2


SEBUAH PEMBICARAAN


Biarkan Kenanganku Tetap Ada part 2: Sebuah Pembicaraan, kisah horror, cerita seram, menyeramkan


Dituntun oleh ketergesaan dan emosi yang rancu, aku mulai meracau menceritakan kenangan-kenanganku bersamanya, istriku, yang mulai menghantui perasaanku dengan rasa bersalah dan penyesalan. Dan bahkan, aku lupa memperkenalkan diriku, maaf, namaku Ali, Paninengan Ali, 24 tahun, lahir dan terjebak di sebuah kota yang sedikit menyenangkan, lembang.


Istriku -seperti yang pernah kukatakan- bernama Hasna Auliani. Kami menikah di usia yang sama-sama –terlalu muda- karena cinta, yaa, cinta. Tidak seperti kisah cinta yang mungkin pernah kalian dengar, kisah cinta kami tidaklah terlalu rumit.


Hasna adalah sepupu jauhku, terlalu jauh hingga aku bahkan tak terlalu mengenalnya. Hanya tahu bahwa dia sepupuku. Hanya itu. Sampai pada suatu hari -3 tahun yang lalu ketika aku masih sibuk mencari kerja- dia datang bersama Ayahku. Hanya dengan Ayahku.


“Ali,, kemari!” perintah ayahku.


Aku yang sedang berada di kamar -tidak jauh dari tempat Ayahku dan Hasna terduduk dengan kaku di ruang tamu- segera menghampirinya, bertanya-tanya ada perihal apa dan kenapa Hasna –yang tidak pernah mampir ke rumah kami- tiba tiba datang sendirian, maksudku tidak bersama ayah atau ibunya.


“Yaa Ayah...” jawabku pada ayahku.


“Duduklah,, ada yang harus dibicarakan” Ayahku bicara dengan nada serius.


Aku duduk, menelan ludahku, agak tegang dan malu-malu.


“Kau mungkin sudah tahu Hasna, dia sepupu jauhmu, kalian pernah bertemu sebelumnya”


“Yaa, ketika kami masih kelas 2 SMP” jawabku gugup –yang meski sebenarnya aku sadar belum saatnya untuk bicara.


“Kau akan menikahinya,,,” Kata ayahku tiba-tiba.


Aku terkejut.


Entah karena kesal karena aku memotong pembicaraannya, atau mungkin hanya bercanda untuk memecahkan kegugupanku, entahlah, tapi sepertinya Ayahku serius.


“Hasna sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi, kerabat dekat yang dia miliki hanyalah Aku, Pamannya. Ayahnya baru saja meninggal, Ibunya sudah terlebih dahulu meninggalkan mereka, rumah dan isinya disita bank. Hasna sendirian dan tidak punya tempat tinggal.” Kata ayahku mulai menjelaskan.


Aku masih terdiam, gugup dan agak bingung.


“Hasna akan tinggal disini, tapi seperti yang kau tahu Ayah dan Ibu akan pergi ke Australia untuk keperluan bisnis kami, jadi Ayah merasa tidak enak meninggalkan kalian berdua di rumah ini,,,”


Aku semakin terdiam, menelan ludahku, menggigit bibirku yang tiba-tiba kering.


“...meski kalian sepupu, kalian bukanlah mahrom, kau mungkin paham akan hal itu....”


Aku mulai berdesir, aku mulai paham dengan apa yang sebenarnya Ayahku ingin jelaskan. Ayahku, yaa, Ayahku adalah seorang yang taat beragama, tidak heran jika ia memiliki pemikiran ke arah yang ia sedang jelaskan.


Wajahku memerah. Merah padam.


“Maksud Ayah, Ayah ingin kau menikahinya sebelum Aku dan ibumu pergi meninggalkan kalian berdua di rumah ini, untuk keamanannya dan kebaikanmu juga” Lanjut ayahku menjelaskan situasi itu.


Hasna dan aku berumur sama ketika itu, 21 tahun, kami sudah cukup umur untuk menikah. Tapi, menikah tiba-tiba dengan seseorang yang tidak terlalu kukenal......


Dan entah bagaimana dengan Hasna, atas otorisasi Ayahku pada kami berdua, Aku, aku hanya merasa hal seperti itu terlalu tiba-tiba.


“Tapi bagaimana dengan Hasna?” kataku tiba-tiba.


“Yaa, Ayah rasa dia tidak keberatan, lagipula dia tidak punya pilihan, benarkan Hasna?” kata ayahku.


Hasna, seorang gadis yang –sebenarnya anggun- nampak polos dalam diam dan wajah yang juga memerah, mengangguk......


“Nah, sekarang bagaimana denganmu?” Tanya Ayahku. “Tapi tentu saja, jika kau menolak, Hasna akan tinggal di pinggir jalan,,,,,” lanjut ayahku tiba-tiba mengancam.


Hey,,hey,, jadi sebenarnya aku yang tidak punya pilihan disini.


“Tapi... Ayah,, dia kan bisa ngekost atau tinggal di rumah kontrakan,,,” gumamku pada Ayah. Gugup –tentu saja-.


“Tidak, Ayah tidak bisa meninggalkan Amanat saudara Ayah dan menelantarkannya, bagaimanapun, akan lebih baik jika kau menikahinya, akan lebih baik bagi kalian berdua, bagi Ayah juga.


Sebagai Anak laki-lakiku satu satunya, kau berkewajiban menanggung Amanat yang Ayah tanggung, kau akan menjaga Hasna, melindunginya menggantikan kewajiban Ayah... bukan sebagai kerabat yang bukan mahromnya –tentu saja- tapi sebagai seorang suami”


Aku menelan ludahku lagi, meski sebenarnya tidak ada ludah, tidak sedikitpun. Kering.


“...Selain itu, Menikah akan melancarkan Rezekimu, sampai hari ini kau masih menganggur bukan?


Kau juga akan mendapat restu kedua orang tuamu ini dan tentu saja dua per tiga agama mu akan terjaga.. bagaimana?” lanjut ayahku.


Yaa, ini terlalu aneh. Ayahku memaksaku untuk menikah dengan sepupuku dan masih bertanya seolah aku punya pilihan lain, tapi bagaimana dengan Hasna, apakah dia tidak keberatan.


“Jika Hasna tidak keberatan,, Ayah” jawabku pelan dan agak tergesa.


“Nah, sudah diputuskan,,,” teriak ayahku sambil berdiri karena senang.


“Tapi Hasna,,,,,,???” sontak aku bertanya.


Hasna, yang sedari tadi duduk membisu, yang bahkan entah dianggap ada atau tidak, yang bahkan pendapatnya mungkin tak pernah di hiraukan Ayahku, masih terduduk dengan menunduk, wajahnya merona merah dan jika kau tanya bagaimana penampilannya, baiklah akan kujawab.



Hasna, wanita yang akan kunikahi ini adalah wanita yang cukup menarik, perawakannya agak tinggi –lebih tinggi dariku, mungkin- cukup langsing dan proporsional, bulu matanya lentik, rambutnya hitam panjang terurai dan sedikit bergelombang, hidungnya agak mancung, kulitnya putih kekuningan khas kulit wanita indonesia, dan sesuai dengan namanya –Hasna- bisa dibilang yaa, dia cantik.


bersambung.....
ke part 3

Share This Article


12 komentar:

  1. gatau musti komen apa, bersambung sih.. hehe..
    tapi keren :D udah bikin imajinasi gua menari di atas deretan abjad penuh misteri *halah*

    BalasHapus
    Balasan
    1. belum sis, santai aja, Twistnya di part 3, siap siap terkejut :-)

      Hapus
  2. mudah-mudahan cerita sambungnya mereka tidak jadi nikah,,hahaha,,
    bercanda sob..

    aku tunggu episode berikutnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. yaa nikahlah,, kalo ngga nikah part 1 nya gimana? kan udah di tulis, tapi tenang aja, ada hal yang unpredictable pokoknya :d

      Hapus
  3. baru tahu kalau suka nulis cerpen, kalau baca alur ceritanya agak nyesek karena di jodohin orang tua. tapi gak tau entar endingnya gimana, kan masih bersambung juga :)
    tapi keren lah ceritanya (h)
    di tunggu cerita selanjutnya Kakak... (o)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenernya ini bukan cerpen bang, cuma saya labeli cerpen aja :-)
      niatnya ini mau ta jadikan ebook bang, mohon dukungannya yaa, terutama kritikan nih yang penting,,,, :d

      Hapus
    2. mau kritik apa, aku juga gak jago nulis.
      yang penting semangat aja untuk karya-karyanya.

      Hapus
  4. Kapan lanjutanya *sok serius* hehe

    salam kenal aja nih,
    belajar-berkata.blogspot.com

    BalasHapus
  5. Ah, baru tahu ada seri bersambung di blognya Sugiiiii....Semangat bro lanjut terus ya hahaha

    BalasHapus
  6. wah asik nih, baru baca 2 part sekaligus. ditunggu lanjutannya :-)
    btw tukang cendolnya kemana? =))

    BalasHapus
  7. Wah, keren nih. Ditunggu yang berikutnya :-d

    BalasHapus
  8. tanggung banget nih kenapa ge diterusi haha mantap gan!
    btw salam kenal ya, mampir keblog gue:)

    BalasHapus