Cinde Sri Pandeni - suginugi | blog ajaib Cinde Sri Pandeni

Ajaib Hot News :

Jumat, 13 September 2013

katalogi: ,

Cinde Sri Pandeni

Cinta adalah tipuan kotor,
mempermainkan kita
demi kelangsungan hidup spesies.
(Somerset Mougham)

Namanya Cinde Sri Pandeni, nama yang aneh untuk seorang yang berasal dari suku sunda, lebih terdengar seperti nama orang bali. Aku tak tau apa arti namanya, tapi sepertinya nama Cinde berasal dari nama seorang tokoh dongeng yang kehilangan sepatu kacanya, kau tahu, lalu menikah dengan seorang pangeran yang menemukan sepatu kaca itu. Yaa, yaa, nama tokoh dongeng itu adalah Cinderella. Aku rasa orang tuanya ingin anak gadisnya ini memiliki keberuntungan seperti Cinderella itu (yaa, seperti agar menjadi seorang Putri, misalnya)

Bila diperhatikan, Cinde memang tampak seperti Cinderella dalam dongeng. Penampilannya biasa saja, wajahnya nampak lusuh kelelahan seperti habis bekerja, dan dari sorot matanya aku selalu melihat kesedihan. Tak jelas apa yang terjadi dengannya tapi aku selalu merasa kasihan, lebih tepatnya kasih sayang yang janggal. Kasih sayang seorang teman yang selalu ingin menghibur, membuatnya bahagia, menghapus segala kesedihannya dan selalu ada saat dia membutuhkan namun aku juga seringkali ingin membuatnya kesal.




kisah cinta, cerita cinta, cinderella, cinde sri pandeni, love story
painting by Ana Razumovskaya
Ketika itu, sewaktu kami menjadi teman sekelas di kelas satu SMA -SMAN 1 Lembang tepatnya, aku duduk sebangku dengan teman lamaku, Dede Rohimat. Ia lebih senang di panggil Imat tapi demi menghormati ibunya aku memanggilnya Dede. Bila aku mengibaratkan diriku sebagai Sherlock Holmes, maka Dede adalah Dr. Watson.

Dihadapan bangku kami yang duduk adalah Cinde dan temannya Lida. Kami berempat berasal dari SMP yang sama -SMP Negeri 2 Lembang tepatnya- dan karena itu kami segera menjadi teman akrab. Kami selalu belajar bersama, bermain bersama hingga bertengkar bersama. Dari kebersamaan itu aku merasa lebih tertarik kepada Cinde daripada Dede dan Lida.

Bila ku ibaratkan Dede seperti Dr. Watson maka dengan tanpa maksud menghina Lida bagaikan kasus pencopetan bagiku, aku sudah tak perlu menduga siapa pelakunya. Sedangkan Cinde bagiku adalah seperti sebuah misteri pembunuhan, misterius, mencekam, begitu rumit, tak terduga dan sulit untuk mengetahui tersangka sebenarnya.

Gimana,, kau sudah tahu jawabannya?” bisik Imat padaku tiba tiba.

Belum, permasalahan ini terlalu sulit” kataku berbisik juga.

Meski banyak orang suasana saat itu begitu hening. Kami berbisik karena tak ingin apa yang sedang kami lakukan diketahui orang. Masalah yang sedang kami hadapi kali ini benar benar penting. Terlalu berbahaya bila sampai kami ketahuan. Tiba tiba di hadapan kami seseorang dengan tatapan penuh pengawasan, bicara lantang, kami terkejut.

Anak-anak, maaf, Ibu harus meninggalkan kalian, ada sesuatu yang penting yang harus ibu lakukan sekarang. Kerjakan soal ulangan kalian dengan baik dan jangan menyontek! Ingat kejujuran adalah kunci keberhasilan!” kata Bu Nove.

Yaa, yaa kami sekelas sedang melaksanakan ulangan tengah semester. Kali ini yang sedang kami kerjakan adalah soal ulangan Biologi. Ibu Noverita Lukman yang merupakan Guru Biologi di kelas kami sedang mengawasi kami tapi karena suatu alasan beliau meninggalkan kelas. Kami bebas menyontek sekarang!

Soal ulangan Biologi kali ini bukan hanya soal tentang hafalan, bukan hanya pengenalan tumbuhan dan hewan. Lebih menyangkut sesuatu yang lebih dalam, konsep tentang kehidupan, mulai dari asal usulnya hingga satuan fungsionalnya, pengetahuan tentang sel dan perkembangannya hingga mikroorganisma.

Menguji kemampuan berhipotesa dengan menentukan variabel- variabel mana yang tetap dan mana yang bisa berubah, berteorema tentang sistematika hingga genetika. Kami bisa saja menyontek dengan melihat buku, tapi tak semudah itu, untuk menjawab soal soal kali ini lebih diperlukan penalaran dan logika.

Hey gi, sudah kau kerjakan semua belum? Aku lihat!” kata seorang teman di belakangku.

Aku berbalik dan kulihat semua teman-teman menatapku penuh harap seperti kucing yang berharap bisa melahap ikan. Kali ini bukan hanya Dede yang ingin menyontek padaku tapi hampir semua teman-teman sekelasku juga.

Belum,, tinggal soal essay nya” kataku.

Kalau gitu lihat jawaban yang pilihan gandanya saja!” kata salah satu mereka.

Iya,,” kataku

Aku kemudian menulis semua jawaban soal pilihan gandaku di selembar kertas sobekan agar mereka bisa gantian melihatnya dan aku bisa tenang mengerjakan soal lainnya. Aku menyerahkan kertas itu pada Dede terlebih dahulu, lalu Ia memberikan kertas itu pada teman-teman lainnya. Aku melihat Cinde menolak kertas jawabanku.

Eh Cin, kau ngga mau nyontek?” tanyaku.

Nggak!” katanya ketus.

Emh, sombong,,” kataku.

Biarin,,” katanya.

Aku menyangka bahwa Cinde hanya menjaga gengsinya saja. Pantang baginya untuk menyontek pada laki-laki sepertiku meski dia tahu bahwa bila menyangkut Biologi aku jagonya. Yang kutahu adalah biasanya perempuan seperti Cinde akan lebih mengedepankan emosinya daripada logika. Dia mungkin tak ingin menyontek padaku karena merasa akan merendahkan harga dirinya di depanku, daripada seperti itu dia memilih mendapat nilai jelek tapi harga dirinya menaik.

Kertas jawaban yang kutulis tadi mungkin sudah menyebar hingga ke pojok kelas, sementara itu aku sendiri sudah selesai mengerjakan semua soal. Tak lama Bu Nove muncul lagi ke kelas bersamaan dengan habisnya waktu untuk mengerjakan soal. Aku tidak tahu teman-temanku yang lain sudah mengerjakan semua soalnya atau belum tapi aku adalah orang pertama yang menyerahkan lembar jawabanku pada Bu Nove.

Oke anak-anak, waktu kalian sudah habis, ayo kumpulkan segera!” kata Bu Nove.

Tiba tiba semua orang menatapku kesal, mungkin mereka pikir bila aku tak segera menyerahkan jawabanku, Bu Nove akan memberikan waktu tambahan tapi semua sudah terlanjur. Bu Nove terkenal karena ketegasan dan kejujurannya sehingga teman-teman segera mengumpulkan jawaban mereka karena mereka sadar bahwa sudah tak ada yang bisa mereka lakukan dengan pernyataan Bu Nove selain menurutinya.

Aku lihat Cinde adalah orang terakhir yang mengumpulkan lembar jawabannya, selain kesedihan sekarang di matanya tersorot kecemasan. Aku mengasihaninya, pastilah kali ini nilainya anjlok dan bahkan nilai itu tak akan lebih baik dari nilai teman-temanku yang menyontek padaku.

Aku merasa akan mendapat nilai yang terbaik, aku harap nilai 90 dan teman-temanku yang hanya menyontek pilihan gandanya saja padaku mendapat nilai 70, Dede yang meskipun menyontek jawaban pilihan gandanya padaku namun bisa mengerjakan essay dengan sisa kecerdasan yang dimilikinya aku kira akan mendapat nilai 80, sedangkan Cinde yang hanya mempertahankan egonya kupastikan mendapat nilai 60.

Gimana Cin, bisa?” tanyaku menggoda.

Bisalah,, kau pikir aku bodoh apa?” katanya ketus.

Iya ngga bodoh sih,, tapi tolol!” kataku mengejek.

Ihh dasar kampret!” katanya marah.

Aku hanya tersenyum saja mendengarnya, dia mungkin terpancing dan merasa sangat kesal.

Pehul (bahasa sunda...),,” balasku pelan.

Apa?” teriaknya.

Emh,, emh,, Betul,,” kataku takut dia lebih marah lagi.

Aku tahu Cinde, meski dia penyabar dia memang sering kesal, aku kira memang ada masalah di pikirannya. Aku sering mengerjainya tapi aku takut juga kalau dia sampai marah, tipe penyabar sepertinya akan menumpahkan segala emosinya sekaligus jika marah, seperti magma yang menyembur tiba-tiba dari Gunung berapi, bisa-bisa aku hangus disemburnya juga.

***

Seminggu berlalu, masa ujian tengah semester berakhir. Semua hasil ulangan di bagikan. Aku mendapat nilai yang memuaskan, tak ada nilai merah. Selain nilai Biologiku semua nilai biasa biasa saja berkisar antara 70 dan 80. Perkiraanku tak jauh, untuk nilai Biologi aku mendapat nilai 85, Imat mendapat 75 dan temanku yang lainnya mendapat nilai bervariasi antara 65 hingga 80, syukurlah semua mendapat nilai berbeda. Untuk Cinde aku rasa tepat seperti dugaanku, dia mendapat nilai 60 karena sejak dibagikan dia merasa malu untuk menunjukkannya.

Gimana nilaimu” tanyaku pada Cinde.

Mau tahu aja!” katanya ketus.

Aku sudah tahu kok,,” kataku tersenyum.

Berapa?” katanya.

Aku menatapnya serius. Dia membalas tatapanku penuh tanya. Lalu dengan tiba-tiba, aku tertawa. Aku tertawa geli dan dengan nada mengejek aku meninggalkannya, diapun kesal.

Dasar kampret!” teriaknya.

Teman-temanku yang mendapat nilai 65 merasa kecewa, mereka menjadi sinis padaku yang mendapat nilai tinggi. Pada hari itu juga kami sekelas mendapat tugas bahasa Inggris untuk membuat sebuah Drama. Dalam drama itu akan dinilai kemampuan siswa dalam berdialog bahasa inggris mulai dari ekspresi hingga pronunciation-nya. Kelas di bagi 4 kelompok dan kami diberi kebebasan untuk memilih teman kelompoknya.

Semua orang sudah membentuk kelompoknya masing-masing, hanya tinggal aku sendiri yang belum mendapat kelompok. Mereka yang mendapat nilai 65 menghasut teman sekelompoknya yang lain untuk tidak menerimaku. Alangkah liciknya mereka. Air susu dibalas air tuba!

Imat teman baikku tak berdaya membelaku dari hasutan mereka sedangkan Cinde dan Lida yang masih satu kelompok dengannya cuek-cuek saja. Aku sedikit kecewa atas sikap mereka semua. Namun aku yakin selalu ada tempat bagi mereka yang mau berusaha. Dengan bantuan Bu Irza guru bahasa inggris kami, aku meminta untuk ditempatkan bersama mereka; Imat, Cinde, Lida dan mereka yang masih sinis saja. Sekarang mereka menganggap aku lebih licik dari mereka. Aku tersenyum melihat tatapan tak suka dari mereka. Bila air susu di balas air tuba maka kencingi saja!

Berat hati mereka menerimaku dalam kelompoknya tapi bekerja kelompok bukan masalah pribadi. Ini tentang menyatukan kemauan dan tekad bersama dalam satu tujuan yang pasti. Mengkoordinasikan semua pengetahuan dan usaha dengan semangat keselarasan. Mengintegrasikan kekuatan dan mengakumulasikanya menjadi kesatuan yang tak tergoyahkan. Mereka yang segera menyadari hal ini sekarang justru memberikanku peran penting dalam tugas kali ini.

Drama yang kami buat sederhana saja, bercerita tentang Cinderella. Dongeng yang klasik bukan? Cinde yang dianggap paling cantik berperan sebagai Cinderella, ah sudah kuduga. Aku setuju, bukan karena kecantikannya tapi karena sorot matanya itu yang mewakili penderitaan Cinderella yang selalu disiksa oleh kedua kakak tirinya, peran yang pas untuknya. Lida berperan sebagai salah satu kakak tirinya itu. Imat yang agak gemuk menjadi seorang raja yang akan mengadakan pesta mencari jodoh untuk sang pangeran.

Sedangkan teman-temanku yang lainnya memilih menjadi piguran saja karena tak mau banyak-banyak bercakap dalam bahasa inggris, rupanya itulah alasan mereka memberiku peran penting ini. Aku berperan menjadi seorang pangeran yang mencari jodoh. Itu bagus tapi sialnya itu juga tak mudah, aku harus menghapalkan dialog yang banyak dalam bahasa inggris, ini jauh lebih mengerikan bagiku daripada menghapalkan nama-nama latin dalam taksonomi.

Waktu persiapan hanya seminggu sebelum pementasan. Aku jarang ikut latihan karena aku merasa lebih penting untuk menghapalkan dialog dialog itu. Aku juga merasa sudah cukup tahu tentang skenarionya yang pasaran. Teman-teman memaklumiku-sebenarnya mereka senang aku tak datang, mereka mengijinkanku untuk tidak ikut latihan agar aku menghapalkan dialog itu di rumah, mereka hanya memintaku ikut latihan sekali saja, sehari sebelum pementasan, sisanya mereka yang akan membereskan katanya.

Selama seminggu, teman-teman yang lain mempersiapkan kostum-kostum dan properti tambahan, sementara itu aku berlatih sendirian di rumah, aku berbicara dalam bahasa inggris seperti Shakesphere membaca syair. Aku berakting seperti Leonardo D’Caprio di depan cermin, aku mengekspresikan kesedihan Romeo ketika kehilangan Juliet dalam adegan Cinderella pergi meninggalkan istana pada pukul 12 malam.

Lalu dengan diiringi lagu romantis dan dengan bantuan sebuah guling aku berlatih dansa. Aku melenggak-lenggok penuh gairah, ke kanan ke kiri, memeluk guling itu. Aku meniru gerakan dansa Antonio Banderas ketika berdansa dengan Chaterine Zetta Jones dalam film The Mask of Zorro. Sungguh dramatis!

Di rumah, ketika aku berlatih dansa, aku kepergok. Ayahku menemukanku sedang memeluk guling, berpose seperti kingkong memanjat pohon. Aku kaget, mematung menghentikan tarian dansaku. Ayahku mungkin berpikir bahwa ini adalah akibat masa pubertas yang tak terkendali, peningkatan hormon testosteron yang tinggi. Ayahku merasa bahwa aku yang bocah ingusan akan segera berubah menjadi pria dewasa yang penuh hasrat memburu hewan.

Apa-apan ini ?” bentaknya.

Aku masih tak bergerak. Aku syhock.

Hey, apa-apan kau ujang?” bentaknya lagi.

Aku menelan ludahku. Kakiku bergetar. Aku ketakutan.

Sini kau,, sini!” teriaknya memanggilku.

Aku berjalan ke arah ayahku, pelan-pelan, kakiku masih bergetar.

Hey,, hey ,, hey,, itu,, itu,, lepaskan dulu gulingmu!” teriak ayahku terbata-bata.

Masya Allah, aku masih memeluk guling itu seperti kingkong sedari tadi.

***

Hari pementasan tiba, aku lupa untuk ikut latihan terakhir. Teman-teman sekelompokku kesal padaku tapi aku berhasil meyakinkan mereka. Semua persiapan telah selesai, hanya butuh sedikit penyesuaian saja. Beruntung kelompok kami mendapat giliran terakhir.

Hey gi, ingat! Kau punya adegan dansa dengan si Cinde, jangan sampai gagal!” kata Lida mengingatkanku.

Ehem,, ehem,,” timpal Dede menyindir.

Aku tahu Dede cemburu. Awalnya aku mau menjodohkannya dengan si Lida tapi setelah kuselidiki ternyata Watson ku itu menyukai si Cinde juga.

Sabar kawan, bersainglah secara sehat!” kataku.

Dede tersenyum. Setelah kuperhatikan ternyata dia sudah siap tampil. Dia sudah mengenakan kostumnya. Ia terlihat gagah dengan mahkota emas di kepalanya dan jubah raja berwarna hijau yang menutupi tubuh gendutnya. Lalu dia memberikan stelan kostum padaku. Itu adalah kostum pangeran, sebuah mahkota perak dan jas berwarna putih yang lebih mirip seragam seorang waitress restoran bagiku. Sungguh menggetirkan, tapi bagaimanapun aku akan tampil professional.

Setelah aku mengenakan kostumku, tibalah giliran kelompok kami untuk manggung. Semua tampak berjalan lancar dan baik baik saja. Dede tampil mengesankan dengan pembawaannya yang penuh wibawa. Lida yang berperan antagonis tampak mengerikan ketika memarahi Cinderella yang malang.

Teman-temanku yang lain tampak bangga menjadi seorang piguran, mereka hanya hilir mudik tak karuan. Cinde tampak memilukan, aku semakin kasihan padanya. Aku sendiri mampu berdialog dan berakting dengan baik, bahkan kukira semua orang merasa terkesan dengan penampilan optimalku sebagai seorang pangeran yang kebelet kawin, tapi itu belum semuanya, aku belum mengeluarkan jurus pamungkasku, berdansa.

Adegan ini adalah klimaks penting dalam drama kami, aku mempertaruhkan harga diriku sebagai lelaki dalam adegan ini. Bahkan aku sudah mengorbankan rasa maluku di depan Ayahku. Habis-habisan aku dimarahinya sebelum aku bisa menjelaskan bahwa itu hanya latihan drama sekolah saja. Sampai sekarang Ayahku sering menatapku curiga, takut kalau-kalau hasrat memburu hewanku kambuh lagi. Bahaya, katanya.

Sebuah lagu dansa diputar, menyenandungkan suasana penuh romansa. Cinderella yang telah di sulap menjadi sang putri muncul tiba-tiba. Di balik latar malam yang penuh cahaya rembulan, aku menatapnya terpesona. Sungguh tak kusangka gadis malang itu telah menjelma menjadi seorang putri, gaunnya yang putih bersinar serasi dengan jas putih waitressku. Aku melihatnya bagaikan seorang nelayan sengsara yang menemukan mutiara di kedalaman samudra Hindia. Cinde, itu Cinde, orang tuanya tak salah memberikan nama.

cinde sri pandeni, kisah cinta, cerita cinta, love story, dansa
painting from vividbcreations.yolasite.com
Aku mengajaknya berdansa, mengulurkan tanganku. Aku menggenggam tangannya. Seumur-umur baru kali ini aku menggengam tangan seorang wanita seperti ini. Ada kelembutan disana, ada rasa halus. Aku seolah merasakan kelemahan seorang wanita, maka aku menjelma seorang pria yang harus melindunginya.

Tangan kami berpegangan erat seolah saling merindukan. Jantungku berdebar kencang, ada rasa kegelian. Kali ini kupikir tak hanya hormon testosteronku saja yang bereaksi seperti kata ayahku, tapi juga hormon dopamine, phenylethylamine, serotonin, oestrogen, oxytocin dan beragam pheromone menyemarakan pikiranku. Aku merasa kacau tapi juga gembira. Suasana seperti ricuh dalam pertandingan sepak bola tapi menenangkan seperti akulah tim yang menang. Aku berdansa, bukan dengan guling tapi dengan seorang wanita.


Kami melenggak-lenggok, ke kanan ke kiri, ke depan ke belakang, kami seolah bergelombang seperti ombak di lautan. Perasaanku senyap terombang-ambing. Aku lupa Antonio Banderas, aku lupa Chaterine Zetta Jones, aku lupa bagaimana mereka berdansa tapi aku tak lupa menjadi Zorro, maka di tengah-tengah puncak segala kegembiraanku yang tak jelas aku segera meracau seperti akan berkuda, “Iihaaahh,,”.

Aku tersadar. Semua teman-temanku mendengarku, mereka tertawa cekikikan. Cinde yang sedari membisu berbisik padaku.

Hey bodoh, apa yang kau lakukan?

Eh,, sorry Cin, terbawa suasana” kataku malu.

Cinde tersenyum. Kami masih berdansa.

Kau mau tahu nilai ulangan biologiku?”tanyanya tiba-tiba.

Emh,, 60 kan? tidak apa-apa cin, tidak usah malu” bisikku.

Bukan, nilaiku 90” katanya.

Aku terdiam. Aku tak percaya. Aku melihat pupil matanya tak membesar, dia tampak tenang, berarti dia benar. Cinde tak bohong. Nilai biologinya lebih tinggi dariku. Aku merasa terkalahkan. Semua hormon yang tadi kurasakan, menyurut dalam darahku. Larut bersama keringat dinginku. Tiba-tiba saja sebuah lonceng berbunyi, tanda bahwa Cinde sudah harus pergi.

Aku melihatnya berlari. Ketika dia hampir hilang dari pandanganku, dia mengerlingkan matanya tanda mengejek. Kali ini aku merasa seperti Leonardo D’caprio tapi bukan hanya dalam aktingnya di Film Romeo dan Juliet tapi juga dalam Film Titanic. Bukan hanya mati karena racun tapi juga tenggelam dikedalaman samudra. Semua yang dramatis berubah tragis. Semua orang bertepuk tangan.

NB: Hari ini tanggal 13 September, dua puluh tiga tahun yang lalu, Cinde Sri Pandeni muncul ke dunia dalam bentuknya yang paling tak terduga, seorang bayi manis nan lucu yang menyandang sebuah nama yang sama tak terduganya. Dan sebagai rasa syukur yang sama atas rasa syukurku tentang Ana Putri Yuwita , Aku menulis kisah ini untuk memperingati hari kelahirannya.


Share This Article


9 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. toto saepul anwar> itu waktu kita masih puber to! sekarang kan kita udah gede, 23, masa masih pacaran? btw yg 23 gue loe kan 24 to, TUA!!!

    BalasHapus
  3. ANJRIT, aing dibabawa sagala!!!

    BalasHapus
  4. giiiih...!!! kenapa gue jadi terlihat menyedihkan disini :-b kali kali bikin cerita yang bisa ngangkat harkat,derajat dan martabat gue kek :-s

    BalasHapus
  5. suka sama ceritanya :) apalagi pas cinde ngasih tau kalo nilainya 90 :D wheeer...

    BalasHapus
  6. wahahaha... udah dansa asik gitu, kenapa keluar suara 'iiihhaaaa'? hahaha... tapi gue emang seneng pas baca bagian Cinde ngasih tau nilai ulangannya

    BalasHapus
  7. izin menyimak gan, gue suka bgian cinde ngasih tau nilai ulangannya :D

    BalasHapus